Showing posts with label Struktur. Show all posts
Showing posts with label Struktur. Show all posts

Wednesday, July 19, 2017

Teknologi Bahan (Konstruksi Perlindungan Terhadap Cuaca)


3.1 Pelapis dinding luar
            Kesadaran terhadap pembangunan yang berkesinambungan dan kemerosotan bahan sumber daya alam, dalam hal ini kayu akan meningkatkan perhatian atas cara dan konstruksi pelindung gedung terhadap cuaca.
            Tuntutan atas konstruksi dinding kayu, sering dibagi dengan memilih penyelesaian berlapis-lapis.
Ø  Lapisan struktur menerima dan menyalurkan beban yang terjadi dalam konstruksi gedung.
Ø  Lapisan dinding luar pada konstruksi kayu menerima beberapa tugas sekaligus, seperti menstabilkan kerangka gedung, melindungi gedung terhadap cuaca, serta menanggulangi kebisingan.
Ø  Lapisan dinding dalam merupakan penyelesaian disebelah dalam gedung yang menutup lapisan struktur dan biasanya juga dapat dimanfaatkan untuk menstabilkan kerangka gedung.
Lapisan dinding luar dari kayu
            Penggunaan papan kayu sabagai lapisan dinding luar bergantung pada konstruksi dinding rangka yang dipilih. Pemasangan papan dinding dapat dilakukan secara:
1)      Pemasangan papan dinding vertikal
a)      Papan dinding bercelah terbuka
b)      Pemasangan papan dinding dengan bilah pelindung.
c)      Pemasangan papan dinding dengan papan pelindung sedemikian rupa sehingga terdapat struktur pada dinding yang menonjol.

2)      Pemasangan papan dinding horizontal
a)      Papan horizontal yang bersisik dan ujung bawahnya diruncingkan.
b)      Papan horizontal beralur lidah.
c)      Papan diagonal beralur lidah.

Pengawetan kayu pelapis dinding luar terhadap iklim
            Beberapa cara pengawetan kayu terhadap pengaruh iklim:
a)      Dengan tidak menggunakan papan yang lebar akibat pengaruh radiasi inframerah
b)      Menggunakan lapisan kedap air dibawah balok bantalan dari kayu untuk menghindari kelembapan udara
c)      Memilih atap sengkuap yang lebar dengan permukaan papan yang licin untuk menghindari air hujan
d)     Jika kayu dicat harus menggunakan cat yang mengizinkan kelembapan tembus walaupun air ditolak untuk menghindari kelembapan udara yang mengakibatkan kayu mengembang dan terancam busuk karena berjamur
e)       Memilih papan yang permukaannya licin dengan pembukaan penghawaan konstruksi dilengkapi dengan kawat nyamuk untuk menghindari hama(serangga perusak kayu)
f)       Memilih jenis kayu yang tahan terhadap jamur
3.2 Pelapis dan penutup atap
            Guna pelapis dan penutup atap ialah sebagai kulit pelindung kuda-kuda atap dan ruang dibawahnya. Penutup atap harus kedap air, tahan cuaca, tahan terhadap bunga api penerbangan, berbobot ringan, dan berdaya tahan lama. Pilihan penutup atap juga tergantung pada estetika dan harus memenuhi syarat-syarat keindahan dibandingkan dengan atap-atap disekelilingnya.
Sistem sambungan bahan pelapis dan penutup atap
            Kemiringan atap dipengaruhi selain oleh bahan juga oleh sistem sambungan dan celah. Semakin kecil bahan penutup atap dan semakin banyak celah pada pmasangan yang akan menyebabkan ketirisan, harus semakin terjal atapnya supaya air hujan dapat mengalir dengan cepat.
            Pada prinsipnya ada tiga macam sambungan, yaitu celah terbuka, celah tertutup/terkunci, dan sambungan tanpa celah.
            Menurut kemiringannya, atap digolongkan sebagai:
·         Atap terjal dengan kemiringan > 23o
·         Atap landai dengan kemiringan < 23o
·         Atap datar dengan kemiringan < 5o
3.2.2 Pelapis atap
            Pelapis atap adalah lapisan tambahan kedap air yang dipasang diatas usuk dan dijepit dengan reng yang dipaku sejajar disebelah atas pada setiap kasau sebelum reng untuk penutup atap dipasang.

3.2.3 Penutup atap
            Penutup atap adalah lapisan kedap air teratas pada konstruksi atap.
Sirap kayu dan sirap pelat semen berserat
            Sirap kayu harus dibuat dari kayu kelas awet yang seratnya lurus, bebas dari mata kayu, serta tidak retak-retak.
3.2.4 Konstruksi lisplank
            Konstruksi lisplank melindungi ujung kasau, reng atau konstruksi langit-langit dibawah atap sengkuap sehingga air hujan tidak dapat masuk. Konstruksi lisplank biasanya dibuat dari kayu yang tahan cuaca, yang kering, dan yang tumbuh lurus tanpa cacat. Konstruksi lisplank digolongkan menjadi lisplank tirisan dan lisplank gevel.
3.3 Jendela dan pintu
3.3.1 Konstruksi jendela
            Jendela merupakan lubang cahaya dan lubang udara dalam gedung. Sebagai bingkai berkaca, jendela juga merupakan perlindungan terhadap angin, hujan, udara panas/dingin, kebisingan serta pencuri. Penempatan dan besar jendela pada gedung ditentukan oleh fungsi penghawaan dan kebutuhan cahaya didalam, pandangan estetis diluar, dan pertimbangan konstruktif.
Kosen jendela
            Kosen dari kayu berfungsi sebagai pemegang sayap jendela dimana sayap tersebut melekat dengan engsel yang letaknya dapat berada disebelah kanan, kiri, atau dibagian atas maupun bawah menurut kebutuhan.
            Konstruksi jendela tanpa kosen berarti bingkai jendela dipasang langsung pada ujung lubang dinding yang disediakan. Bagian kiri-kanan dan balok latei diplester rata dan halus, sedangkan bagian ambang bawah dibuat dari beton atau dari pelat baja dilipat khusus dari baja pelat yang dicanai setebal > 1mm atau dapat dibuat dari alumunium. Permukaan atasnya harus miring > 10% sehingga air hujan dapat mengalir kebawah.
            Jendela krepyak biasanya dipasang pada (di luar) jendela kaca atau bingkai kawat nyamuk sebagai pelindung terhadap hujan, panas terik matahari, pencuri, dan sebagainya.

Perlengkapan jendela
            Engsel merupakan alat penggantung atau pelipat pada jendela.Engsel dibagi atas tiga golongan, yaitu engsel pasak mati, engsel pasak lepas, dan engsel kupu-kupu.
            Peralatan pengatu pembukaan jendela berfungsi sebagai penyetel dan pengait pada jendela sehingga dalam keadaan terbuka jendela tetap aman terhadap angin dan menjamin penghawaan ruang.
            Alat penutup digunakan untuk mengunci jendela dalam keadaan tertutup.
3.3.2 Konstruksi pintu
Kosen pintu
            Konstruksi kosen dari kayu untuk pintu tidak berbeda dengan konstruksi kosen dari kayu untuk jendela . Atas dasar penentuan itu, hanya perlu diperhatikan hal-hal yang berbeda dengan kosen jendela, yaitu persoalan ambang pintu dan umpak yang biasanya dibuat dari beton.
Konstruksi pintu dari kayu
            Daun pintu papan merupakan konstruksi pintu dari kayu yang paling sederhana dibuat dari papan berketebalan 18-24mm. Papan-papan daun pintu disambung tumpul atau beralur-lidah. Papan tersebut diketam dan dipasang papan berkelam kura-kura 28x120mm. Kelam diagonal disambung gigitunggal pada papan kura-kura dan dengan sekrup pada daun pintu. Engsel pasak atau T ditempatkan ditengah papan kura-kura.
            Daun pintu panel merupakan konstruksi pintu yang terdiri dari bingkai yang disambung dengan purus dan lubang. Panel dapat dibuat dari kayu masif, kayu lapis, maupun dari kaca.
            Daun pintu berlapis merupakan konstruksi pintu panel dengan lapisan dari papan atau kayu lapis pada kedua belah sisi, yang mengganti panel. Dengan lapisan papan beralur lidah yang vertikal, daun pntu rumah tahan terhadap cuaca dan maling.
            Daun pintu dengan permukaan datar merupakan konstruksi yang dapat dibagi atas dua jenis, yaitu daun pintu masif yang dibuat dari satu pelat kayu lapis, papan blok, papan lamin, serta papan partikel, atau daun pintu ringan yang dibuat dari dua lapisan triplek
            Konstruksi pintu sorong merupakan konstruksi yang memiliki keuntungan menghemat tempat pada keadaan pintu dibuka. Pada prinsipnya terdapat dua cara konstruksi, yaitu pintu sorong yang bergantung dan pintu sorong yang berdiri. Konstruksi pintu sorong yang bergantung terdiri dari daun pintu yang tidak menerima gaya tarik dan gaya tekan sepertidaun pintu biasa, dan karena itu pengembangan dan penyusutan kayu tidak mengganggu fungsinya.
Perlengkapan pintu
            Engsel merupakan alat penggantung pada pintu. Engsel menerima beban dari daun pintu. Engsel yang tepat untuk daun pintu ialah engsel pasak lepas dan engsel kupu-kupu yang kuat. Supaya engsel dapat digerakkan dengan mudah, biasanya digunakan engsel dengan cincin berantara dari bahan sintetik seperti selulose-asetat atau selulose-asetubutirat.
            Kunci pintu dipasang pada daun pintu sedemikian rupa sehingga pegangan berada 90-100cm diatas permukaan lantai.

            Kunci pengaman merupaka kunci dimana bagian keamanan dipisahkan dari bagian penutup pintu. Supaya kunci pengaman betul-betul aman, silindernya tidak boleh menonjol keluar dari permukaan daun pintu. Demi keamanan juga disarankan pintu rumah hanya bagian dalamnya yang dilengkapi dengan pegangan.       

Teknologi Bahan (Mutu dan Jenis Kayu Konstruksi)

Mutu dan Jenis Kayu Untuk Konstruksi

Mutu kayu dibagi menjadi 2 jenis mutu yakni mutu A dan mutu B.
Mutu A
1.        Kadar lengas kering udara 12-18%, rata-rata 15%

2.        Mata kayu :
       d1 ≤ 1/6h ; d2 ≤  1/6b
       d1 ≤ 3,5 cm ; d2 ≤ 3,5 cm

3.        Wanvlak
       e1 ≤ 1/10b ; e2 ≤ 1/10h
       b2 tinggi balok
       h2 tinggi balok

4.        Miring arah serat
       tg α ≤ 1/10

5.        Retak-retak
       Hr ≤ 1/4b ; ht ≤ 1/5b


Mutu B

1.        Kadar lengas kering ≤ 30%

2.        Mata kayu :
       d1 ≤ 1/4h ; d2 ≤  1/4b
       d1 ≤ 5cm ; d2 ≤ 5cm

3.      Wanvlak
e1 ≤ 1/10b ; e2 ≤ 1/10h

4.      Miring arah serat
       tg α ≤ 1/7

5.      Retak-retak
Hr ≤ 1/3b ; ht ≤ 1/4b



Beberapa jenis kayu yang sering digunakan sebagai bahan konstruksi.

1. Kayu Jati      
Kayu jati sering dianggap sebagai kayu dengan serat dan tekstur paling indah. Karakteristiknya yang stabil, kuat dan tahan lama membuat kayu ini menjadi pilihan utama sebagai material bahan bangunan. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Kayu jati juga terbukti tahan terhadap jamur, rayap dan serangga lainnya karena kandungan minyak di dalam kayu itu sendiri. Tidak ada kayu lain yang memberikan kualitas dan penampilan sebanding dengan kayu jati.
Pohon Jati bukanlah jenis pohon yang berada di hutan hujan tropis yang ditandai dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Sebaliknya, hutan jati tumbuh dengan baik di daerah kering dan berkapur di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Jawa adalah daerah penghasil pohon Jati berkualitas terbaik yang sudah mulai ditanam oleh Pemerintah Belanda sejak tahun 1800 an, dan sekarang berada di bawah pengelolaan PT Perum Perhutani. Semua kayu jati kami disupply langsung dari Perhutani dari TPK daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kami tidak memakai kayu jati selain dari 2 daerah tersebut.
Harga kayu jati banyak dipengaruhi dari asal, ukuran dan kriteria batasan kualitas kayu yang ditoleransi, seperti: ada mata sehat, ada mata mati, ada doreng, ada putih. Penentuan kualitas kayu jati yang diinginkan seharusnya mempertimbangkan type aplikasi finishing yang dipilih. Selain melindungi kayu dari kondisi luar, finishing pada kayu tersebut diharapkan dapat memberikan nilai estetika pada kayu tersebut dengan menonjolkan kelebihan dan kekurangan kualitas kayu tersebut.

2. Kayu Merbau
            Kayu Merbau termasuk salah satu jenis kayu yang cukup keras dan stabil sebagai alternatif pembanding dengan kayu jati. Merbau juga terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang disertai adanya highlight kuning. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Merbau juga terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang disertai adanya highlight kuning. Kayu merbau biasanya difinishing dengan melamin warna gelap / tua. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis. Pohon Merbau tumbuh subur di Indonesia, terutama di pulau Irian / Papua. Kayu merbau kami berasal dari Irian / Papua.

3. Kayu Bangkirai/Yellow Balau
Kayu Bangkirai termasuk jenis kayu yang cukup awet dan kuat. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II, III dan Kelas Kuat I, II. Sifat kerasnya juga disertai tingkat kegetasan yang tinggi sehingga mudah muncul retak rambut dipermukaan. Selain itu, pada kayu bangkirai sering dijumpai adanya pinhole. Umumnya retak rambut dan pin hole ini dapat ditutupi dengan wood filler. Secara struktural, pin hole ini tidak mengurangi kekuatan kayu bangkirai itu sendiri. Karena kuatnya, kayu ini sering digunakan untuk material konstruksi berat seperti atap kayu. Kayu bangkirai termasuk jenis kayu yang tahan terhadap cuaca sehingga sering menjadi pilihan bahan material untuk di luar bangunan / eksterior seperti lis plank, outdoor flooring / decking, dll. Pohon Bangkirai banyak ditemukan di hutan hujan tropis di pulau Kalimantan. Kayu berwarna kuning dan kadang agak kecoklatan, oleh karena itulah disebut yellow balau. Perbedaan antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas, dengan warna gubal lebih terang. Pada saat baru saja dibelah/potong, bagian kayu teras kadang terlihat coklat kemerahan

4.        Kayu Kamper
Kayu kamper telah lama menjadi alternatif bahan bangunan yang harganya lebih terjangkau. Meskipun tidak setahan lama kayu jati dan sekuat bangkirai, kamper memiliki serat kayu yang halus dan indah sehingga sering menjadi pilihan bahan membuat pintu panil dan jendela. Karena tidak segetas bangkirai, retak rambut jarang ditemui. Karena tidak sekeras bangkirai, kecenderungan berubah bentuk juga besar, sehingga, tidak disarankan untuk pintu dan jendela dengan desain terlalu lebar dan tinggi. Termasuk kayu dengan Kelas Awet II, III dan Kelas Kuat II, I. Pohon kamper banyak ditemui di hutan hujan tropis di kalimantan. Samarinda adalah daerah yang terkenal menghasilkan kamper dengan serat lebih halus dibandingkan daerah lain di Kalimantan.

5.        Kayu Kelapa
Kayu kelapa adalah salah satu sumber kayu alternatif baru yang berasal dari perkebunan kelapa yang sudah tidak menghasilkan lagi (berumur 60 tahun keatas) sehingga harus ditebang untuk diganti dengan bibit pohon yang baru. Sebenarnya pohon kelapa termasuk jenis palem. Semua bagian dari pohon kelapa adalah serat /fiber yaitu berbentuk garis pendek-pendek. Anda tidak akan menemukan alur serat lurus dan serat mahkota pada kayu kelapa karena semua bagiannya adalah fiber. Tidak juga ditemukan mata kayu karena pohon kelapa tidak ada ranting/ cabang. Pohon kelapa tumbuh subur di sepanjang pantai Indonesia. Namun, yang paling terkenal dengan warnanya yang coklat gelap adalah dari Sulawesi. Pohon kelapa di jawa umumnya berwarna terang.

6.        Kayu Meranti Merah
Kayu meranti merah termasuk jenis kayu keras, warnanya merah muda tua hingga merah muda pucat, namun tidak sepucat meranti putih. selain bertekstur tidak terlalu halus, kayu meranti juga tidak begitu tahan terhadap cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai di luar ruangan. Termasuk kayu dengan Kelas Awet III, IV dan Kelas Kuat II, IV. Pohon meranti banyak ditemui di hutan di pulau kalimantan.

7.        Kayu Karet
Kayu Karet, dan oleh dunia internasional disebut Rubber wood pada awalnya hanya tumbuh di daerah Amzon, Brazil. Kemudian pada akhir abad 18 mulai dilakukan penanaman di daerah India namun tidak berhasil. Lalu dibawa hingga ke Singapura dan negara-negara Asia Tenggara lainnya termasuk tanah Jawa.
Kayu karet berwarna putih kekuningan, sedikit krem ketika baru saja dibelah atau dipotong. Ketika sudah mulai mengering akan berubah sedikit kecoklatan.
Tidak terdapat perbedaan warna yang menyolok pada kayu gubal dengan kayu teras. Bisa dikatakan hampir tidak terdapat kayu teras pada rubberwood.
Kayu karet tergolong kayu lunak - keras, tapi lumayan berat dengan densitas antara 435-625 kg/m3 dalam level kekeringan kayu 12%. Kayu Karet termasuk kelas kuat II, dan kelas awet III, sehingga kayu karet dapat digunakan sebagai substitusi alternatif kayu alam untuk bahan konstruksi.

8.        Kayu Gelam
Kayu gelam sering digunakan pada bagian perumahan, perahu, Kayu bakar, pagar, atau tiang tiang sementara. Kayu gelam dengan diameter kecil umumnya dikenal dan dipakai sebagai steger pada konstruksi beton, sedangkan yang berdiameter besar biasa dipakai untuk cerucuk pada pekerjaan sungai dan jembatan. Kayu ini juga dapat dibuat arang atau arang aktif untuk bahan penyerap.

9.        Kayu Ulin
Kayu ini banyak digunakan untuk bahan bangunan rumah, kantor, gedung, serta bangunan lainnya. Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan. Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian. Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m. Kayu Ulin berwarna gelap dan tahan terhadap air laut.
Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat. Kayu ulin termasuk kayu kelas kuat I dan Kelas Awet I.

10.    Kayu Akasia
Kayu Akasia (acacia mangium), mempunyai berat jenis rata-rata 0,75 berarti pori-pori dan seratnya cukup rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya II, yang berarti mampu bertahan sampai 20 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II-I, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar serta berserat lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi maupun bahan meibel-furnitur.

Tuesday, April 8, 2014

Pedoman - Pedoman Dalam Dunia Teknik Sipil

1. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung 2002-12 SNI 03-2847-2002 (Beton)
    Downloade
2. Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung_1987 (SKBI 1.3.53.1987)
    Downloade
3. Peraturan Bembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983
    Downloade
4. Dasar - Dasar Perencanaan Geometrik Jalan oleh Silvia Sukirman
    Downloade
5. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota
    Downloade

Pekerjaan Pengecoran Beton dan Beton Bertulang

Pekerjaan Pengecoran beton dan beton bertulang

Pekerjaan beton dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku (SNI03 – 2847 Tahun 2002) dengan jenis beton yang akan dilaksanakan sesuai dengan Rencana Anggaran dan Biaya (RAB).
Persyaratan uji :
  • Trial Test dan Mix Design, Merupakan uji awal sebelum pengecoran dilaksanakan, untuk mengetahui takaran sesuai dengan mutu beton yang disyaratkan dan dipakai sebagai acuan untuk pelaksanaan pekerjaan selanjutnya, khususnya untuk pelaksanaan beton struktur.
  • Actual Random Test, Merupakan uji acak selama pelaksanaan pengecoran berlangsung untuk mengetahui mutu beton pada bagian struktur tertentu.
  • Slump Cone Test, Merupakan uji acak untuk mengetahui mutu adukan beton dalam hal ini jumlah volume airnya, untuk menjaga konsistensi perbandingan air, semen sehingga didapat mutu beton seperti yang disyaratkan.
  • Tes Tekan Beton, Pada saat pelaksanaan pengecoran pondasi, balok, plat dan kolom harus dibuatkan silinder dengan ukuran dan jumlah disesuaikan dengan ketentuan yang dimuat dalam (SNI03 – 2847 Tahun 2002), dan dilakukan pengetesan di Laboratorium konstruksi beton.
Adukan beton dengan perbandingan 1 pc : 3 ps : 5 kr digunakan untuk beton tidak bertulang seperti : rabat beton dan lantai kerja, sedangkan adukan beton dengan campuran 1 pc : 2 ps : 3 kr dipakai untuk kolom praktis, balok latai, ring balk atau beton yang bukan struktur.

Bahan untuk adukan beton :
Semen :
  • Untuk pekerjaan konstruksi beton bertulang harus memakai semen sesuai standart SNI.
  • Dalam pelaksanaan pekerjaan diharuskan memakai semen satu produk/merk.
  • Semen yang didatangkan harus baik dan baru serta di dalam kantong-kantong semen yang masih utuh.
  • Untuk penyimpanan diletakkan min. 20 cm diatas tanah. Semen yang mulai mengeras harus segera dikeluarkan dari lapangan/lokasi.
Agregat Beton :
  • Pasir beton harus tajam, keras, bersih dari kotoran-kotoran dan bahan kimia, bahan organik dan susunan diameter butirnya memenuhi persyaratan-persyaratan (SNI03 – 2847 Tahun 2002) jumlah butiran lumpur lembut harus kurang dari 5% keseluruhannya.
  • Ukuran maksimum dari batu pecah/split adalah 2 cm dengan bentuk lebih kurang seperti kubus dan mempunyai “bidang pecah” minimum 3 muka dan split harus bersih, keras dan bebas dari kotoran-kotoran lain yang dapat mengurangi mutu beton dan memenuhi persyaratan (SNI03 – 2847 Tahun 2002).
  • Susunan ukuran koral/pembagian butir harus termasuk susunan batu agregat campuran di daerah baik menurut (SNI03 – 2847 Tahun 2002).
Air :
  • Untuk adukan, air yang dipergunakan harus bebas dari asam, garam, bahan alkali dan bahan organik yang dapat mengurangi mutu beton.
Besi Beton :
  • Pembengkokkan dan pemotongan baja tulangan harus dilaksanakan menurut gambar / rencana detail dengan menggunakan alat potong dan mal-mal yang sesuai dengan diameter masing-masing.
Kayu untuk cetakan beton :
  • Kayu untuk beton dipakai kayu kelas II sesuai syarat dalam PPKI 70 atau dipakai kayu meranti.
  • Papan bekisting dari papan meranti tebal 2 cm / multiplek tebal ± 9 mm dan pemakaiannya maksimum 2 (dua) kali. Sebelum pengecoran bidang multiplek dilapis cairan mud oil sampai rata agar pada waktu pembongkaran, beton tidak menempel pada papan / multiplek, perancah bekesting dipergunakan kayu meranti ukuran minimum 5/7 cm atau rangka baja/schafolding.
Pelaksanaan Pekerjaan Beton :
  • Pekerjaan pengecoran harus dilaksanakan sekaligus dan harus dihindarkan penghentian pengecoran, kecuali bila sudah diperhitungkan pada tempat-tempat yang aman.
  • Untuk mendapatkan campuran beton yang baik dan merata harus memakai mesin Pengaduk beton / Concrete mixer pengaduk (untuk pembuatan beton praktis campuran 1 pc : 2 ps : 3 kr) dan memakai Ready Mix (untuk pembuatan beton struktur dengan mutu beton fc’ 22 Mpa).
  • Segera setelah beton dituangkan kedalam bekesting, adukan harus dipadatkan dengan concrete vibrator
  • Selama waktu pengerasan, beton harus dihindarkan dari pengeringan yang terlalu cepat dan melindunginya dengan menggenangi air diatas permukaan terus menerus selama paling tidak 10 (sepuluh) hari setelah pengecoran plat lantai, sedangkan untuk kolom struktur harus dilindungi dengan membungkus dengan karung goni yang dibasahi.
  • Pembongkaran bekesting tidak boleh dilakukan sebelum waktu pengerasan dipenuhi dan pembongkarannya dilakukan dengan hati-hati dan tidak merusak beton yang sudah mengeras
  • Apabila konstruksi beton bertulang langsung terletak diatas tanah, maka sebelumnya harus dibuat lantai kerja yang rata dengan campuran 1 pc : 3 ps : 6 kr dengan ketebalan minimum 5 cm.
Pekerjaan Bekisting :
  • Untuk mendapatkan bentuk penampang, ukuran dari beton seperti yang ditentukan dalam gambar konstruksi, bekesting harus dikerjakan dengan baik, teliti dan kokoh.
  • Bekesting untuk pekerjaan beton, yaitu kolom, lantai, balok dll. dibuat dari papan/ multiplek t = 9 mm yang berkwalitas baik dan tidak pecah-pecah.
  • Konstruksi dari bekesting seperti sokongan-sokongan perancah dan lain-lain yang memerlukan perhitungan
  • Cetakan harus menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai bentuk, ukuran dan tepi-tepi yang sesuai dengan gambar-gambar rencana dan syarat-syarat pelaksanaan.
  • Bambu disarankan tidak digunakan sebagai tiang cetakan, disamping kekuatan dan kekakuan dari cetakan juga stabilitas perlu diperhitungkan dengan baik, terutama terhadap berat beton sendiri serta bahan-bahan lainnya yang timbul selama pengecoran, seperti akibat vibrator dan berat para pekerja.
  • Sebelum pengecoran dimulai, bagian dalam dari bekesting harus bersih dan kering dari air limbah, minyak dan kotoran lainnya.
Pekerjaan Baja Tulangan :
  • Gambar rencana kerja untuk baja tulangan meliputi rencana pemotongan, pembengkokan, sambungan, penghentian dll. Untuk semua pekerjaan tulangan harus dipersiapkan menurut SNI03 – 2847 Tahun 2002.
  • Pemasangan tulangan harus sesuai dengan jumlah dan jarak yang ditentukan dalam gambar.
  • Tulangan harus ditempatkan dengan teliti pada posisi sesuai rencana, dan harus dijaga jarak antara tulangan dengan tulangan, jarak antara tulangan dengan bekesting untuk mendapatkan tebal selimut beton / beton decking yang cukup.
  • mempergunakan penyekat / spacer, dudukan / chairs dari blok beton atau baja.
  • Bila dipakai blok beton, maka mutu beton harus sesuai dengan beton yang bersangkutan atau dengan campuran 1 Pc : 2 Ps dan dipasang sudah dalam kondisi kering, semua tulangan harus diikat dengan baik dan kokoh sehingga dijamin tidak bergeser pada waktu pengecoran.
  • Sebelum melakukan pengecoran, semua tulangan harus diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan ketelitian penempatannya, kebersihan dan untuk mendapatkan perbaikan bila perlu.
  • Tulangan yang berkarat harus segera dibersihkan atau diganti
  • Khusus untuk tebal selimut beton, dudukan harus cukup kuat dan jaraknya sedemikian sehingga tulangan tidak melengkung dan beton penutup tidak kurang dari yang disyaratkan. Toleransi yang diperkenankan terhadap bidang horizontalnya adalah ± 2.5 mm.
Terima kasih
semoga bermanfaat..!