Showing posts with label Transportasi. Show all posts
Showing posts with label Transportasi. Show all posts

Wednesday, July 19, 2017

DAMPAK PEMBANGUNAN JALAN MELALUI HUTAN



Dampak yang akan terjadi yakni pada perubahan  atau terganggunya bentang alam pada jalur yang akan dibuka. Diikuti dengan perubahan vegetasi penutupan lahan dan musnahnya tumbuhan ataupun berbagai aneka ragam hayati yang terdapat dilahan tersebut.“Semakin lebar atau luas lahan tergsur semakin besar kemungkinan  kerusakan yang terjadi.  Dengan asumsi 50 meter (lebar) dan 50 kilometer jalan melalui hutan, maka tidak kurang dari 2.500 hektare kawasan hutan akan beralih fungsi,” jelasnya. Maka, sepanjang jalur  semua tumbuhan akan mati dan limpasan air dari tanah gusuran akan mempengaruhi wilayah yang lebih luas dari areal yang berubah fungsi itu.

Adapun Beberapa Dampak Pembangunan Jalan melalui Hutan
1. Berkurangnya luas area hutan
Alasan : Dalam pembuatan jalan  tersebut memerlukan lahan yang tidak sedikit. Sebenarnya sudah cukup luas ara hutan lindung yang di ubah menjadi hutan produktif, apalagi bila ditambah untuk pembangunan jalan, maka berkuranglah hutan sebagai penyumbang oksigen dibumi.

2. Hilangya habitat flora dan fauna endemic penghuni hutan
Alasan : Proyek pembangunan jalan tidak sedikit memakan lahan area hutan. Padahal dalam  hutan tersebut banyak terdapat jenis flora dan fauna yang tidak terdapat di hutan lain.

3. Sering terjadi pencurian satwa dan tumbuhan langka
Alasan : Apabila proyek pembangunan jalan tersebut terealisasi dan ada jalan melalui hutan, maka pencurian satwa maupun tumbuhan marak terjadi, karena akses ke hutan lebih mudah dengan adanya jalan. Dengan kendaraan yang lalu lalang, tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab seperti pencurian tersebut.

Wednesday, January 20, 2016

JALAN PERKOTAAN

JALAN PERKOTAAN

Tipe Jalan Perkotaan
Jalan dua-lajur dua-arah (2/2 UD)
Jalan empat-lajur dua-arah
Tak-terbagi (yaitu tanpa median) (4/2 UD)
Terbagi (yaitu dengan median) (4/2 D)
Jalan enam-lajur dua-arah terbagi (6/2 D)

Bagian Ruas Jalan Perkotaan
Jalur lalu-lintas kendaraan
Kemiringan melintang jalan
Lebar jalur
Lajur
Bahu jalan
Separator jalan
Fasilitas parkir
Jalur Hijau

Jalur pejalan kaki
Jalur lambat
Median jalan
Kapasitas
Kapasitas Jalan adalah jumlah maksimum kendaraan /orang yang dapat melewati suatu penampang jalan pada lajur jalan pada periode waktu tertentu dengan kondisi jalan tertentu dan merupakan arus maksimum yang bisa dilewatkan pada suatu ruas jalan. Dinyatakan dalam kendaraan/jam atau smp/jam.

Kapasitas Dasar
Kapasitas dasar adalah kapasitas segmen jalan pada kondisi geometri, pola arus lalu lintas, dan faktor lingkungan yang ditentukan sebelumnya.

Kapasitas Jalan Kota
  Faktor - faktor pengaruhnya :
Lebar jalur atau lajur
Ada tidaknya median jalan
Hambatan bahu jalan
Gradien jalan (daerah perkotaan/luar kota)
Ukuran kota

Rumus Kapasitas Jalan Kota

C = Co x FCW x FCSP x FCSF x FCCS

Keterangan :
C = Kapasitas (smp/jam)
Co = Kapasitas dasar (smp/jam)
FCW = Faktor penyesuaian lebar jalan
FCSP = Faktor penyesuaian pemisah arah (untuk jalan tidak terbagi)
FCSF = Faktor penyesuaian hambatan samping dan bahu jalan
FCCS = Faktor penyesuaian ukuran kota

Faktor Koreksi
Faktor koreksi adalah faktor penyesuaian dari kondisi ideal ke kondisi sebenarnya untuk suatu variabel tertentu.
Faktor Koreksi terdiri dari :
Faktor penyesuaian lebar jalan
Faktor penyesuaian pemisah jalan
Faktor penyesuaian hambatan samping
Faktor penyesuaian ukuran kota

Kinerja Jalan Perkotaan

Kinerja untuk ruas jalan perkotaan dapat dinilai dengan berapa paramater lalu lintas yaitu sebagai berikut :
1.) Derajat Kejenuhan (DS)
Digunakan sebagai faktor utama dalam penentuan tingkat kinerja simpang dan segmen jalan. Nilai DS menunjukkan apakah segmen jalan tersebut mempunyai masalah kapasitas atau tidak.
DS = Q/C
  Derajat kejenuhan dihitung dengan menggunakan arus dan kapasitas dinyatakan dalam smp/jam.

2.)Kecepatan
Kecepatan  tempuh  digunakan sebagai ukuran utama kinerja segmen jalan, karena mudah dimengerti dan diukur, dan merupakan  masukkan yang penting untuk biaya pemakai jalan dalam analisa ekonomi .
V = L / TT
Dimana :
V  = Kecepatan  rata-rata ruang LV  (km/jam)
L   = Panjang segmen (km)
TT  = Waktu tempuh rata-rata LV sepanjang segmen (jam)

3.) Tingkat Pelayanan Jalan
Tingkat pelayanan (level of service) adalah ukuran kinerja ruas jalan atau simpang jalan yang dihitung berdasarkan tingkat penggunaan jalan, kecepatan, kepadatan dan hambatan yang terjadi.




Tuesday, April 8, 2014

Trans Sarbagita Sebagai Moda Transportasi Perkotaan di Denpasar Bali

Proposal PKM





Latar Belakang Masalah

Bali adalah salah satu propinsi yang unggul pada sektor pariwisata, memiliki keindahan alam dan keunikan budaya yang tinggi. Pesatnya perkembangan sektor pariwisata Bali telah membuka perkembangan sektor lainnya seperti sektor jasa, industri kecil, perdagangan, pendidikan, transportasi dsb. serta telah terbukti sebagai pemacu pertumbuhan perekonomian di Bali. Beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah penduduk yang sangat pesat dengan mobilitas yang tinggi yang disertai peningkatan kepadatan lalu lintas.

Bali yang dikenal dengan pariwisatanya yang begitu menawan pernah menjadi sorotan dunia internasional karena macet yang begitu kronis seperti yang diungkapkan majalah Time edisi 1 April 2011 lalu yang menurunkan artikel berjudul "Holidays in Hell: Bali’s Ongoing Woes". Dari informasi Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi Pemerintah Provinsi Bali, pada tahun 2009 jumlah penduduk 598.928, sepeda motor 343.707 (1 : 0,6) dan mobil pribadi 69.946 (1: 0,12). 87% rumah tangga mempunyai satu atau lebih sepeda motor dan 32% mempunyai satu mobil atau lebih, menyebabkan 90% perjalanan dinominasi oleh kendaraan pribadi sehingga ruang jalan menjadi tidak efisien.

Pemerintah Provinsi Bali berpikir keras untuk mengurai kemacetan tersebut. Salah satu solusinya adalah menyiapkan sarana transportasi massal yang murah dan nyaman. Transportasi massal tersebut bernama Trans Sarbagita (Denpasar – Badung – Gianyar – Tabanan). Dengan harapan mampu memecah kemacetan yang disebabkan tingginya jumlah kendaraan. Operasional Trans Sarbagita ini hampir mirip dengan busway di Jakarta. Bedanya, koridor Trans Sarbagita ini tersebar di empat kota dan kabupaten. Dengan demikian jangkauannya lebih luas.

Trans Sarbagita diluncurkan oleh Bapak Gubenur Bali pada tanggal 17 agustus 2011 dan mulai beoperasi tanggal 18 agustus 2011 pada koridor 2 : Batubulan-Nusadua PP. Sejak beroperasi, bagaimanakah tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayan Trans Sarbagita dan bagaimana efektifitasnya dalam mengatasi kemacetan, apakah Trans Sarbagita telah mampu memberikan pelayanan yang memuasakan bagi penggunanya dan mampu mengurangi kemacetan yang ada. Untuk itu perlu diadakannya sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Trans Sarbagita dan tingkat efektifitasnya dalam mengatasi kemacetan, yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi.

Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam proposal ini, sesuai yang telah dijabarkan diatas yaitu:

  1. Bagaimana sistem transportasi perkotaan Trans Sarbagita?
  2. Bagaimanakah tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh Trans Sarbagita terhadap penggunanya?
  3. Bagaimana efektifitas Trans Sarbagita dalam mengatasi kemacetan di kota Denpasar?


Tujuan
Tujuan dari pembuatan proposal ini tidak lain yaitu untuk memperoleh pendanaan untuk melakukan penelitian. Penelitian yang akan dilakukan tentang Trans Sarbagita sebagai moda transportasi perkotaan di Denpasar Bali. Tujuan utama dari penelitian tersebut yaitu untuk mengetahui sistem transportasi Trans Sarbagita, tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Trans Sarbagita dan tingkat efektifitasnya dalam mengatasi kemacetan, yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi.

Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dengan diadakannya penelitian ini yaitu menghasilkan sebuah artikel tentang sistem transportasi perkotaan Trans Sarbagita dalam mengatasi kemacetan.

Kegunaan
Diharapkan dengan dilaksanakannya penelitian ini, mahasiswa sebagai intelektual muda diharapakan dapat melatih keterampilannya dalam melakukan penelitian, dan hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang Trans Sarbagita di Denpasar – Bali.



Tinjauan Pustaka
Belajar dari kota – kota besar di dunia, permasalahan transportasi perkotaan tidak dapat diatasi hanya dengan pembangunan infrastruktur transportasi. Angkutan umum merupakan pilihan logis terhadap :
a) Memberikan pilihan angkutan kepada masyarakat
b) Peningkatan mobilitas orang
c) Keterbatasan lahan dan biaya pembangunan infrastruktur
d) Peraturan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran fasilitas umum
e) Pelaksanaan amanat undang – undang LLAJ (Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi : 2009).

1. MRT (mass rapid transit)
MRT (mass rapid transit) secara harfiah dapat diartikan sebagai moda angkutan yang mampu mengangkut penumpang dalam jumlah yang banyak (massal) dengan frekuensi dan kecepatan yang sangat tinggi (rapid). Menurut modanya, MRT dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, antara lain: bus (buslane/busway), subway, tram, dan monorail. Bus MRT dapat dibedakan dengan bus angkutan biasa dan kendaraan lain karena biasanya merupakan shuttle bus yang memiliki rute perjalanan tertentu dan beroperasi pada lajur khusus, sehingga sering disebut buslane/busway. Pemisahan lajur ini dilakukan agar penumpang tidak mengalami penundaan waktu perjalanan dan tidak terganggu oleh aktivitas moda angkutan lain yang melintasi rute perjalanan yang sama. Busway sendiri biasanya bervariasi ada yang berbentuk ganda (bus gandeng), bus tunggal, dan bus bertingkat. MRT jenis busway biasanya lebih banyak dipilih oleh kota-kota di negara berkembang karena pengembangannya membutuhkan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan subway, monorel, ataupun tram. Kota Bogota di Kolombia merupakan salah satu contoh sukses penerapan sistem busway.

MRT dalam bentuk subway pada prinsipnya memiliki kesamaan sistem operasi dengan kereta api. Namun, konstruksi teknisnya terdapat perbedaan karena subway terletak di bawah tanah (underground) tetapi stasiun-stasiunnya langsung terhubung ke lokasi pusat kegiatan. Di Eropa Barat, subway merupakan salah satu moda angkutan yang sangat populer dan seringkali dikenal dengan istilah metro system. Kota London merupakan kota pertama yang menerapkan sistem subway sebagai moda angkutan massal berkecepatan tinggi pada tahun 1863.

Tram merupakan bentuk MRT dengan moda angkutan mirip dengan kereta api, tetapi jalur operasinya dapat terintegrasi dengan jalan raya. Tram dapat ditemukan di hampir semua kota menengah dan besar di Eropa dan di beberapa kota besar di Amerika. Tram pertama kali diperkenalkan pada tahun 1807 di Inggris dan merupakan bentuk awal MRT di dunia. Dalam operasionalnya, dikenal dua jenis tram: (1) tram yang jalur operasinya menyatu dengan jalur lalu-lintas kendaraan; dan (2) tram yang memiliki jalur operasional tersendiri yang dikenal dengan istilah light rail.

Monorail merupakan MRT yang memiliki jalur tertentu dan biasanya tidak mengambil ruang kota yang luas. MRT jenis ini biasanya memiliki jalur di atas jalan raya dan yang ditopang dengan tiang-tiang yang sekaligus berfungsi untuk membentuk lintasan monorail. Berbeda dengan MRT lainnya, monorail biasanya hanya terdiri atas satu rute dengan sistem lintasan loop dengan beberapa stasiun pemberhentian yang menghubungkan dengan MRT lainnya maupun langsung ke lokasi kegiatan tertentu. Penggunaan monorail sudah banyak dikembangkan di kota-kota metropolitan di dunia antara lain Moskow, Tokyo, dan Sydney. (Delik Hudalah dan Yudistira Pratama : 2010)

2. Trans Sarbagita
Trans Sarbagita merupakan salah satu sistem transportasi bus cepat atau Mass Rapid Transit. Trans Sarbagita merupakan angkutan umum dalam trayek dengan asal-tujuan dan rute tetap yang mirip dengan Busway di Jakarta, meliputi 17 trayek utama dan 36 trayek cabang/ranting sebagai feeder, merupakan satu kesatuan sistem jaringan pelayanan jasa transportasi massal di wilayah SARBAGITA (Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan). Untuk trayek utama menggunakan bus sedang, dan hanya pada ruas jalan tertentu menggunakan bus besar, dan untuk trayek cabang /ranting menggunakan Minibus/Elf atau Microlet. Angkutan umum Trans Sarbagita, diselenggarakan dalam rangka menyediakan pilihan pergerakan bagi masyarakat, sebagai langkah awal dalam mengurangi jumlah kendaraan di jalan dan ketertiban lalu lintas jalan umum.

3. Transjakarta
Transjakarta atau sering disebut Busway merupakan sistem transportasi bus cepat atau Bus Rapid Transit di Jakarta. Sistem ini dimodelkan berdasarkan TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia. Meskipun busway di Jakarta meniru negara lain (Kolombia, Jepang, Australia), namun Jakarta memilih jalur yang terpanjang dan terbanyak. Sehingga kalau dahulu orang selalu melihat ke Bogota, sekarang Jakarta dijadikan sebagai contoh yang perlu dipelajari masalah dan cara penanggulangannya (Egga : 2012).

Hasil dan pembahasan penelitian Egga Marsia Devana pada tahun 2012 di Jakarta tentang Transjakarta yang berjudul “Peran Transjakarta Dalam Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas di Kota Jakarta”, diantaranya menyimpulkan bahwa pengguna Transjakarta sudah merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Transjakarta dilihat dari faktor kewajaran biaya, kepastian biaya, kebersihan, kenyamanan, keamanan, prosedurpelayanan, kejelasan petugas, tanggung jawab petugas, kemampuan petugas, kecepatan pelayanan, keadilan mendapatkan pelayanan, persyaratan pelayanan dan kepastian jadwal. Hanya saja penumpang sangat tidak puas dengan jadwal kedatangan bus Transjakarta yang dapat memakan waktu 30 – 60 menit.

Berdasarkan dari penelitian tentang Transjakarta di kota Jakarta diatas, kami hendak melakukan penelitian dengan metode yang serupa terhadap Trans Sarbagita di kota Denpasar. Penelitian yang fokus pada kondisi yang terjadi di kota Denpasar. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian serupa diatas yaitu tidak kami masukannya indikator kewajaran biaya, prosedur pelayanan, kemampuan petugas, dan persyaratan pelayanan karena tidak berpengaruh besar terhadap kondisi riil.

Metode Penelitian
Dalam penelitian kami menggunakan metode deskriptif. Menurut Tika (2005 : 4) “Metode deskriptif adalah penelitian yang lebih mengarah pada pengungkapan fakta – fakta yang ada, walaupun kadang – kadang diberikan interpretasi atau analisis.” Dalam pelaksanaannya dilapangan, metode yang digunakan adalah metode survei. Menurut Tika (2005 : 6) “metode survei adalah metode penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan sejumlah besar data berupa variabel, unit atau individu dalam waktu yang bersamaan.”

1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Denpasar, yaitu pada trayek Trans Sarbagita koridor 2, yang merupakan koridor pertama beroperasi : dari terminal Batubulan – W.R Supratman – Jl. Bypass Ngurah Rai – Jl. Prof. I.B Mantera – Jl. Bypass Ngurah Rai – Simpang Dewa Ruci – Jl. Setia Budi Kuta – Jl. Raya Kuta – Sentral Parkir Kuta – Jl. Imam Bonjol – Sunset Road timur – Simpang Dewa Ruci – Jl. Bypass Bypass Nusa Dua – Jl. Masuk kawasan Nusa Dua – Jl. Amphi (Halte BTDC 1) dan sebaliknya.

2. Variabel Penelitian
Variabel yang terdapat dalam penelitian ini menggunakan variable tunggal, yaitu :
Tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Trans Sarbagita Indikator :
a. Kepastian biaya
b. Kebersihan lingkungan
c. Kenyamanan lingkungan
d. Keamanan lingkungan
e. Keramahan petugas
f. Kejelasan petugas
g. Tanggung jawab petugas
h. Kecepatan pelayanan
i. Kapasitas jadwal
j. Keadilan mendapatkan pelayanan

3. Populasidan Sampel
a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini meliputi populasi manusia, yaitu seluruh pengguna jasa Trans Sarbagita. Menurut media cetak, yaitu Berita Dewata edisi 16 maret 2012, Sejak dioperasikan tanggal 18 Agustus 2011 hingga 26 Februari 2012 tercatat rata-rata 1.571 orang per hari menggunakanTrans Sarbagita, itu berarti dalam setahun terakhir jumlah penumpang Trans Sarbagita sebanyak 573.415 orang.

b. Sampel
Tentang besarnya jumlah sampel yang harus diambil dari populasi tidak ada aturan tertentu yang pasti. Kevalidan sampel terletak pada sifat dan karateristik yang mendekati populasi, bukan pada besar atau banyaknya, hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Arikunto (2006 : 134) bahwa “Banyaknya sampel tergantung pada : sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data, besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti, dan kemampuan peneliti dilihat dari waktu, harga dan dana.”

Dalam penelitian ini yang menjadi sampel wilayah adalah seluruh halte yang ada pada koridor 2 sebanyak dua puluh halte sebagai berikut :
a. Batu bulan
b. Tohpati
c. Prof. I.B Mantra
d. Padang Galak Sanur
e. Matahari terbit Sanur
f. Sindhu Sanur
g. Danau Poso Sanur
h. Serangan
i. Pesanggaran
j. Pedungan
k. Dewa Ruci 2
l. Sentral parkir Kuta
m. Sunset Road Timur Kuta
n. DewaRuci 1
o. Kuta Timur
p. Jimbaran
q. Taman Griya
r. Bualu
s. Nusa Dua 1
t. BTDC

Untuk penentuan jumlah sampel dan populasi yang akan diteliti, kami berpedoman kepada menurut Brierly dalam Markenis (2009 : 51) “sebagai pedoman kasar, jumlah sampel minimum untuk sebuah riset pengukuran kepuasan pelanggana dalah 200 responden.”

Berdasarkan pendapat di atas besar sampel yang diambil dalam penelitian ini mengambil sebanyak 300 responden yang diambil berdasarkan teknik insedental sampling (sampling kebetulan) yang menurut Purwanto (2011 : 75) “Sampling kebetulan adalah sampel yang diambil karena kebetulan ditemui.” Jumlah responden tersebut sebanyak 300 responden, pengambilan setiap halte dilakukan dengan perhitungan dibagi rata sebanyak 15 responden di setiap halte.

4. Data dan Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis data, yaitu: data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dengan melaksanakan pengamatan langsung dilapangan. Data sekunder didapat dari Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi Provinsi Bali serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) Trans Sarbagita.

5. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Data Primer
5.1.1 Pengamatan (observesi) adalah mendatangi seluruh halte pada koridor 2. Selanjutnya melakukan pengamatan terhadap kondisi sarana prasarana Trans Sarbagita berdasarkan pedoman observasi yang dibuat oleh peneliti. Alat yang digunakan dalam obsevasi lapangan ini adalah kamera digital dan pedoman observasi.

5.1.2 Pemotretan adalah pengambilan objek sarana dan prasaranaTrans Sarbagita dan kondisi lalu lintas saat terjadi naik atau turunya penumpang Trans Sarbagita. Alat yang digunakan adalah kamera.

5.1.3 Angket adalah membagikan angket kepada responden yang merupakan
pengguna Trans Sarbagita.

b. Data Sekunder
5.2.1 Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa
jumlah armada, trayek, data jumlah penumpang Trans Sarbagita.

5.2.2 Studi literatur adalah mengumpulkan buku – buku, jurnal, dan beberapa artikel yang terkait dengan penelitian.

6. Teknik Pengolahan Data
a. Editing adalah pengolahan dari data – data yang sudah didapatkan. Tujuannya yaitu untuk mengecek kelengkapan jawaban instrumen yang diberikan oleh responden.
b. Pengkodean adalah untuk mengelompokkan jawaban yang diberikan oleh responden berdasarkan jenisnya hal ini agar mempermudah dalam mencari data.
c. Tabulasi data adalah pemindahan data – data yang sudah ada dalam bentuk tabel agar mudah untuk melakukan interpretasi datanya.

7. Prosedur dan Tahapan – tahapan Penelitian
a. Persiapan adalah mengumpulkan buku – buku, jurnal, artikel dan hal penelitian – penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini untuk menyiapkan angket dan pedoman observasi.
b. Pelaksanaan adalah melakukan pengumpulan data baik data sekunder maupun data primer. Pengumpulan data primer yaitu melakukan observasi, melakukan penyebaran angket kepada pengguna Trans Sarbagita, serta melakukan pemotretan. Pengumpulan data sekunder berupa pencarian data jumlah armada, trayek, data jumlah penumpang Trans Sarbagita ke UPT Trans Sarbagita.
c. Evaluasi adalah pengolahan data – data yang telah terkumpul dengan menggunakan beberapa teknik seperti teknik editing, pengkodean, dan tabulasi selanjutnya data – data tersebut dilakukan analisis dengan menggunakan analisis deskriptif.

8. Analisis Data
a. Analisis deskriptif adalah analisis yang memiliki tujuan untuk mendeskripsikan gejala yang nampak di daerah penelitian. Dalam teknik analisis data ini peneliti melakukan penarikan kesimpulan terhadap data hasil lapangan.
b. Formula Persentase adalah teknik yang digunakan peneliti untuk menganalisi angket dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

P = (f × 100) / N

P = Persentase
f = Frekuensi jawaban responden
N = Jumlah responden
100 = Bilangan konstan

Kriteria perhitungan persentase

0 %           = Tidak ada
1 – 24 %   = Sebagian kecil
25 – 49 % = Kurang dari setengahnya
50 %         = Setengahnya
51 – 74 % = Lebih dari setengahnya
75 – 99 % = Sebagian besar
100 %       = Seluruhnya

c. Menghitung Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yaitu menghitung Indeks kepuasan konsumen dengan menggunakan nilai rata – rata tertimbang masing – masing unsur pelayanan. Dalam perhitungan IKM terdapat 20 unsur yang dikaji atau indikator yang dikaji. Setiap unsur pelayanan mempunyai penimbang yang sama dengan rumus sebagai berikut :

Bobot nilai rata - rata tertimbang = jumlah bobot/ jumlah unsur
                                                        =1 / 10
                                                        = 0,1

Untuk memperoleh nilai IKM unit pelayanan digunakan pendekatan nilai rata – rata tertimbang dengan rumus sebagai berikut :

IKM = (Total dari Nilai persepsi perunsur / Total unsur yang terisi ) × Nilai penimbang

Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25 – 100 maka hasil penilaian tersebut diatas dikonversikan dengan nilai dasar 25, dengan rumus sebagi berikut :

Nilai IKM unit pelayanan× 25

Hasil perhitungan tersebut diatas dikategorikan sebagai berikut :

Tabel Nilai Persepsi, Interval IKM, dan Interval Konversi IKM
No Nilai Interval                      Konversi IKM Mutu            Pelayanan Kinerja Unit Pelayanan
1   1,00 – 1,75 25 – 43,75                     D                                          Sangat Tidak Puas
2   1,76 – 2,50 43,76 – 62,50                C                                                  Tidak Puas
3   2,51 – 3,25 62,51 – 81,25                B                                                         Puas
4   3,26 – 4,00 81,26 – 100,00              A                                                    Sangat Puas

Jadwal Kegiatan

Bulan Ke :

  1. Persiapan     : Menyiapkan angket dan pedoman observasi
  2. Pelaksanaan : Pengumpulan data Primer dan Sekunder
  3. Evaluasi       : Editing, pengkodean, dan tabulasi
  4. Analisis Data
  5. Pembuatan laporan hasil penelitian


Rancangan Biaya
Tabel 4. Rancangan biaya
No Uraian                                                                 Jumlah (Rp.)
1    Bahan Habis Pakai
      a. Kertas A4 2 rim                                                  76.200
      b. Tinta Printer Warna 1 set                                    225.000
      c. Pengadaan angket 300set                                  1.050.000
2    Peralatan Penunjang PKM
      a. Penyewaan Kamera 2 hari                                 700.000
      b. Alat – alat tulis -                                                 100.000
3    Perjalanan dan Konsumsi Team
      a. Bukit Jimbaran – Nusa Dua – Batu bulan         3.750.000
      b. Bukit Jimbaran – UPT Trans sarbagita               300.000
4    Lain-lain
      a. Penyusunan laporan                                            300.000
      b. Tabulasi data                                                       500.000
      c. Analisis data                                                        500.000
      d. Biaya tak terduga                                                500.000
                                                                          Total 8.001.200

Daftar Pustaka
Arikunto, suharsimi. 2006. Prosedur penelitian suatu pendekatan Praktik. Jakarta : PT. Rieneka Cipta

Devana, Egga Marsia. 2012. Peran Transjakarta Dalam Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas Di Kota Jakarta. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia

Dhae, Arnold. 2012. Peminat Angkutan Sarbagita terus Meningkat. Denpasar: Berita Dewata edisi 16 maret 2012

Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi. 2009. Pengembangan Angkutan Umum Trans Sarbagita. Denpasar:Pemerintah Provinsi Bali

Hudalah, Delik dan Pratama, Yudistira. 2010. MRT: Angkutan perkotaan masa depan?.Bandung: Institut Teknologi Bandung

Kristanti, Elin Yunita. 2011. Atasi Macet, Bali Operasikan Trans Sarbagita.

Denpasar: VIVAnews edisi Kamis 4 agustus 2011

Markenis. 2009. Costumer, Statisfaction dand Beyond. Yogyakarta : Jelajah Nusa

Purwanto. 2011. Statistika untuk Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Belajar

Tika, M.P. 2005. Metode Penelitian Geografi. Jakarta : Bumi Aksara

UPT Trans Sarbagita. 2012. Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi. Denpasar: Pemerintah Provinsi Bali


Biodata Dosen Pembimbing
Nama : Nyoman Budiartha Raka Mandi
Tempat/Tanggal Lahir : Denpasar/ 16 Nopember 1954
Alamat Rumah : Jl. Tunggul Ametung IIIB no. 5, Denpasar, Bali
Telp. 0361-421537; 081 138 7540
Pekerjaan : Dosen tetap Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik UNUD
Pangkat/Golongan : Pembina Utama – IV/b
Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
Alamat Kantor : Kampus Bukit, Jimbaran, Bali
Telp. 0361-701806
Email: budiartha@gamail

PENDIDIKAN
1967 : SD Negeri XXIV, Denpasar
1971 : SMP Negeri II, Denpasar
1974 : SMA Negeri I, Denpasar
1983 : Insinyur Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya [Ir.]
1990 : Master of Science Transportasi, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung [M.Sc]
1997 : Program Doktor, Civil Engineering pada University of Newcastle – UK, Tidak Selesai
2007 : Program Doktor, Program Studi Teknologi Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.
2011 : Doktor, Program Studi Teknologi Kelautan, Bidang keahlian Transportasi Laut, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.

RIWAYAT PEKERJAAN
1983 : CV. Astiti, Konsultan Perencana dan Pengawas, Denpasar Bali (Kabag.Teknik)
1984 – 1985 : PT. Tukad Mas, Surabaya, staf teknik yang diperbantukan di cabang Bali & cabang NTB.
1984 – sekarang : UNUD, Denpasar, Bali (Dosen tetap Jurusan Teknik Sipil)
1990 – sekarang : PT. Guna Teknosa, Denpasar, Bali (Tenaga Ahli)
RIWAYAT JABATAN STRUKTURAL
8 Nopember 1995 s/d : Direktur LPIU, EEDP UNUD, ADB Loan 1432-INO
26 januari 1998
15 Juli 1996 s/d 20 : Pembantu Dekan I Fakultas Teknik UNUD (Periode I)
September 1999
20 September 1999 : Pembantu Dekan I Fakultas Teknik UNUD (Periode II)
s/d 25 September 2003

Pedoman - Pedoman Dalam Dunia Teknik Sipil

1. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung 2002-12 SNI 03-2847-2002 (Beton)
    Downloade
2. Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung_1987 (SKBI 1.3.53.1987)
    Downloade
3. Peraturan Bembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983
    Downloade
4. Dasar - Dasar Perencanaan Geometrik Jalan oleh Silvia Sukirman
    Downloade
5. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota
    Downloade